Minggu, 24 Mei 2026

Darah yang ternyata tak kental

Pepatah selalu bilang "Kata persaudaraan kakak adik lebih kental daripada darah", namun sekarang aku baru mengerti kalau sepertinya itu salah. Ternyata saudara kandungku satu-satunya tidak mengerti yang aku rasakan, dia masih bertahan dengan egonya yang katanya ingin mencoba memperbaiki kepercayaan yang patah. 

Aku merasa bodoh karena ikut ke dalam dramanya, seharusnya aku biarkan saja hubungan mereka mau jadi seperti apa, harusnya tak usah aku pedulikan dan dengarkan semua cerita-cerita sedihnya itu. 

Sekarang kamu telah kehilanganku, tak ada lagi kepedulianku terhadapmu, ku biarkan dunia yang kejam ini terus kamu lalui dengan kesendirianmu itu, aku sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi nanti. Aku pergi tanpa seucap kata, tak ada ocehanku yang akan kamu dengar, tak ada wajah dan senyumanku yang akan kau lihat lagi. 

Kini aku hanya akan mendoakanmu selalu bahagia dengan keputusan itu, telepon terakhir dan cerita-cerita yang kau karang itu sudah tidak aku pedulikan lagi. Biarkan Allah bukakan hati dan pikiranmu dengan cara yang lebih sakit agar kamu sadar betapa Allah sayang kepadamu dengan semua clue yang Beliau berikan kepadamu tentangnya.

Aku, Mamah, dan Bapak tidak akan lagi jadi garda terdepanmu ketika masalah besar mendatangimu. Tak ada lagi bahu, telinga, ataupun usapan jemari yang akan menghapuskan air matamu. Kini kamu harus bangkit sendiri, harus tegar sendiri, dan kuberharap kamu suatu saat tidak gila karena mengambil keputusan ini. Tegarlah, karena kami tidak ada lagi disampingmu, kami hanya akan menunggu ketika kamu jatuh terpuruk dan tidak bisa lagi melangkah. Jangan panggil kami lagi jika pemikiranmu masih berubah, kami hanya akan menunggu di akhir ketika kamu tidak lagi memutuskan untuk bersamanya. 

Kami marah, kecewa, sedih bukan karena keputusanmu ini, tapi karena ketidakberdayaanmu memilih jalan yang tepat, jika aku teguh untuk bersama kembali dan tidak mengucapkan pisah sedikitpun, kami masih tetap merangkulmu. Karena kami tahu, pundakmu terlalu berat memikul itu, tapi ketidakkonsistenanmu membuat kami kesal karena bentuk kepedulian kami hanya dianggap sebagai angin lalu bagimu. Kamu terlalu berarti bagi kami, semoga ini adalah pilihan akhirmu. Semoga aku tak lagi mendengar tangismu karena hal yang sama. 

Biarlah kini kamu mengerti sulitnya hidup mandiri, tanpa mengandalkan siapapun lagi. Kami pergi akan lama, namun tergantung seberapa kamu berusaha dikemudian hari. 

Kami Pamit.